Kupu-kupu tidak tahu warna sayap mereka, tapi orang-orang tahu betapa indahnya mereka.
Seperti juga dirimu, tidak tahu betapa indahnya dirimu, tapi Allah tahu betapa istimewanya dirimu di mataNya..
Ketika engkau tunduk dalam syari'atNya, Ridha atas takdirNya, Tersenyum dalam musibah, Tegar dalam ujian, Teguh dalam pendirian, Subhanallah...
Semoga engkau termasuk orang-orang yang terpilih menjadi hamba terindah di mataNya,, (^^)

Kamis, 27 Oktober 2011

Kisah Angin, Daun, dan Pohon

Namaku Bayu, bangsa angin, ras sepoi-sepoi. Aku sudah mengelilingi dunia, semua tempat di lima benua, baik yang indah maupun sebuah antah barantah, telah aku kunjungi. Aku suka berkeliling, melihat tingkah laku semua makhluk Tuhan di bawah sana. Kadang membuatku tertawa, kadang membuatku merenung, bahkan menangis ketika melewati benua hitam, benua Afrika mereka menyebutnya. Hingga akhirnya, aku sampai di tempat ini, teduh, jauh dari kebisingan mesin dan asap yang disebabkannya. Aku suka bermain dengan air dan ikan-ikan di dalamnya. Aku meniupkan mereka, dan merekaberiak tertawa, ikan-ikan melompat-lompat ingin bermain juga. Teman-temanku sudah pergi, untuk berkeliling lagi, tapi akusudah nyaman disini. Lagi pula, aku mempunyai teman baru, namanya Livi. Aku suka padanya, ingin mengajaknya bermain bersama, tapi dia lebih suka menatap Alberto, pohon oak yang menjulang paling tinggi di antara kawan-kawannya.

Namaku Livi, bangsa daun, ras menjari. Aku dari kecil hidup dengan Alberto, dan selalu menempel padanya. Aku suka mendengar cerita-cerita darinya, juga teman-temanku yang lain. Mereka semua suka pada Alberto, karena Alberto lah kami tetap hidup. tapi perasaanku padanya lebih dari sekedar suka. Aku cinta padanya. Aku tidak akan lelah untuk tetap berpegang pada rantingnya, walaupun bangsa angin coba menerbangkanku. Dan aku pikir, Alberto juga memegangiku erat, karena beberapa kawanku lepas,terbang entah kemana dibawa angin yang sedang marah melintas. tapi, akhir-akhir ini, aku tau ada yang memperhatikanku. Kata temanku dia bernama Bayu, bangsa angin yang ditinggalkan teman-temannya, atau karena dia ingin tetap tinggal disini? Bayu suka merayuku untuk pergi dengannya, meninggalkan Alberto disini. tapi dia tidak mempunyai kekuatan seperti teman-temannya, yang bahkan Alberto melakukan kuda-kuda, agar tidak jatuh tumbang seperti beberapa kawannya. Aku tahu, setiap hari, setelah bermain dengan air dan ikan-ikan di sungai yang tak jauh dari sini, Bayu kemudian pergi ke hutan ini, menggodaku agar mau pergi bermain dengannya. Tapi aku acuh, tak bergeming, aku tidak ingin meninggalkan Alberto sendirian. Aku cinta padanya. Aku rela mati untuknya, dan seperti yang lainnya, akhirnya aku akan membusuk dan menjadi makanannya. Tapi aku tak peduli itu, bukankah cinta harus berkorban/ Dan begitulah setiap harinya, godaan Bayu tak kuhiraukan.

Namaku Alberto, bangsa pohon, ras oak. Aku terlahir dengan tubuh yang kuat, karena kata mereka, badanku adalah yang terbaik dari semua bangsaku yang lain. Aku paling tinggi dari semua teman-temanku, dan entah kenapa aku tak menyukai itu. Aku selalu terkena panas dari sang matahari, yang dengan pongahnya duduk di singgasana di atas sana. Seolah-olah tidak peduli pada kami yang terbakar disini. Aku juga selalu terkena hujan. Dengan dingin mereka menghajarku seolah-olah aku tiada berdaya. Tapi karena matahari dan hujanlah, aku bisa menjadi seperti sekarang. Menjadi tinggi dan kuat. Aku tahu ada beberapa kawan yang tidak suka denganku. Mereka menganggapku tidak mau berbagi hujan dan matahari. Bukan salahku mempunyai daun yang lebat sehingga menghalangi hujan langsung jatuh ke bumi. Daun. Aku mempunyai banyak daun. Aku tidak mengenal mereka satu-persatu, tapi aku tahu ada Livi yang selalu memperhatikanku. Kata rantingku, dia jatuh cinta padaku.Tapi aku tak bisa mencintainya. Bagaimana mungkin aku hanya mencintai satu daun dan menghiraukan yang lainnya? Tidak. Aku tidak boleh membiarkan dia jatuh cinta padaku.

bulan demi bulan berganti. Tapi rutinitas itu tak berganti. Bayu tetap berharap bisa membawa Livi pergi, Livi tetap menatap pada Alberto, dan Alberto tetap tak peduli akan sinyal cinta yang disampaikan Livi melalui air di tubuhnya. Hanya air yang bisa merasakan hangat cinta Bayu pada Livi, dan Livi berkata pada Alberto. Dan air pun berkata akan cinta bayu pada Livi, melalui aliran di dalam tulangnya. Tapi Livi tetap tak menghiraukan. Livi pun menolak, jika ada aliran air yang akan menembus tulangnya, ia tetap bersikeras bahwa suatu hari nanti Alberto akan tahu betapa besar cintanya padanya.

hari berganti hari, Livi semakin lemah. Tubuhnya tidak hijau lagi, mulai menguning, dan hampir mati. Ia tetap menolak aliran air masuk ke tulangnya. ia ingin membuktikan cintanya pada Alberto. Dan Bayu, tidak tinggal diam melihat hal ini. Dengan seluruh kekuatannya, ia meniup Livi, agar tidak mati sebelmun dia tahu cintanya padanya. Livi bertahan, berpegang erat pada Alberto. ZAlberto tahu akan hal ini, tapi dia tetap pada pendiriannya semula, dia tidak bisa jatuh cinta pada Livi. Livi sangat lemah, apalagi setelah dia tahu, bahwa Alberto tidak memeganginya erat, dia hanya bisa pasrah dan berserah. Akhirnya Livi terlepas dari alberto, dibawa pergi oleh Bayu, melihat isi dunia yang selama ini hanya dia lihat dalam sosok Alberto. Ya, conta sudah membutakannya. Bersama Bayu, dia akhirnya sadar akan satu hal, bahwa lebih baik belajar mencintai Bayu yang mencintainya, daripada berharap akan cinta pada Alberto yang tidak pernah sedetikpun mencintainya.

Livi, sebelum kematiannya telah merasakan cinta yang ia ingin rasakan. Di dalam dekapan Bayu, dia akhirnya merasakan ketenangan dan keindahan. Ia menyesal, mengapa tidak memilih Bayu dari dulu. Tapi Bayu tidak pernah menyesal, walau hanya sehari livi berada dalam peluknya. Sebab dia tahu, inilah cinta sejatinya.

"Apakah daun terlepas dari pohon karena tiupan angin yang membawanya? atau daun terlepas dari pohon karena pohon tidak mempertahankannya?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar